Darul Uloom Deoband India

Ilmu pengetahuan Islam, tidak hanya berkembang di Timur Tengah. Di India juga berkembang pesat. Perkembangan itu ditandai dengan berdirinya sebuah madrasah yang amat berpengaruh, Darul Ulum namanya. Lembaga ini menjadi kiblat pendidikan Islam di India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan hingga Afrika Selatan.

Para ulamanya dikenal memiliki ketinggian ilmu, sifat zuhud, tegas terhadap sekte-sekte sesat serta tidak segan-segan turun langsung dalam kancah pertempuran melawan penjajah Inggris. Para alumninya juga memiliki komitmen dan kiprah besar dalam memajukan Islam, baik di India maupun di luar negeri.

Benteng Umat Islam India

Ikut berjuang melawan penjajah Inggris dan membela hak-hak umat Islam di India
“Di India, tidak ada yang membuat mataku terpana, kecuali setelah menyaksikan madrasah Darul Ulum, yang kini dijuluki Al Azhar-nya India. Ini adalah cermin kebangkitan baru agama dan ilmu.”

Itulah beberapa patah kata yang terucap dari lisan Syaikh Muhammad Abduh, setelah mengunjungi sekolah yang didirikan tahun 1283 H ini. Apa yang diucapkan oleh penulis Tafsir Al Manar itu bukanlah hal yang berlebihan. Darul Ulum telah mencetak banyak ulama yang berpengaruh, dan mengeluarkan umat Islam India dari masa kelam.

Lahirnya madrasah ini sendiri merespon penjajahan Inggris dan runtuhnya dinasti Islam Mughal, yang berpusat di Delhi pada tahun 1274 H. Saat itu, perlawanan umat Islam terhadap penjajah Inggris mengalami kekalahan, karena besarnya kekuatan musuh. Banyak umat Islam gugur dalam peristiwa itu. Jalanan pun penuh dengan jasad para syuhada yang bergelimpangan. Para ulama dan cendekia juga menjadi korban, sebagian dari mereka digantung sedangkan lainnya diasingkan.
Sekolah-sekolah Islam dan bangunan yang diwaqafkan berada di bawah kekuasaan Inggris. Aktivitas belajar-mengajar vakum. Kondisi seperti ini berkelanjutan, hingga umat Islam terpuruk dalam kungkungan kebodohan. Situasi seperti ini menyebabkan sebagian umat Islam murtad, dan menjadi penganut Kristen.

Kondisi menyedihkan itu menggerakkan hati Syaikh Muhammad Qasim An Nanautawi (1287 H), seorang ulama terpandang di India saat itu. Beliau akhirnya berinisiatif untuk berunding bersama sejumlah kolega seperti Syaikh Rashid Ahmad Gangohi (1323 H), Syaikh Dzul Fiqar Ali Ad Deobandi (1322 H), Syaikh Abid Husain Ad Deobandi (1331 H), Syaikh Muhammad Ya’qub An Nanautawi (1302 H), serta Syaikh Fadhl Ar Rahman Al Utsmani (1325 H) mengenai rencana pembangunan sekolah Islam.
Semua sepakat menggunakan sebuah masjid kecil di Deoband, sebuah desa di propinsi Uttar Pradesh untuk digunakan sebagai madrasah. Pada 15 Muharram 1283 H, dibukalah secara resmi sekolah itu. Saat itu pengajarnya hanya seorang, yakni Mula Mahmud, dan murid satu-satunya adalah Mahmud Hasan, yang kelak dikenal dengan nama Syaikh Al Hindi.

Gerakan Deoband Musuhnya Inggris
Walau pada awalnya pelajar yang menuntut ilmu tidak banyak, dan usianya masih “seumur jagung”, akan tetapi kiprah perjuangan sekolah yang berjarak 150 km dari New Delhi ini cukup diperhitungkan. Itu karena sebelum madrasah Darul Ulum didirikan, para pencetusnya sudah bahu-membahu melakukan perlawanan terhadap Inggris tahun 1274 H. Mereka bergerak di bawah kepemimpinan Syaikh Muhammad Qasim An Nanautawi

Saat Kongres Nasional dibentuk untuk menuntut kemerdekaan, Syaikh Rasyid Ahmad Al Gangohi juga mengeluarkan fatwa mengenai diperbolehkannya umat Islam bergabung dalam organisasi ini.

Pada tahapan selanjutnya, para ulama madrasah yang sebelumnya bernama Madrasah Al Islamiyah Al Arabiyah ini memilih berjuang sendiri, setelah melihat Kongres Nasional tidak bisa memenuhi harapan. Syaikh Mahmud Hasan, sang pemimpin berencana menggunakan cara fisik untuk melawan Inggris. Beliau akhirnya diasingkan ke Malta, setelah pihak penjajah mengetahui rencana itu.

Tidak hanya berperan aktif dalam mengusir penjajah. Di India, Darul Ulum juga memegang peran penting dalam kancah politik. Para ulama Deobandlah yang mendukung pemisahan Pakistan dari India, setelah sebelumnya ide tersebut tidak disetujui oleh banyak ulama. Dukungan diberikan setelah mereka yakin bahwa negara itu benar-benar bisa diwujudkan, dan menjadikan syariat Islam sebagai sumber perundang-undangan. Syaikh Shabbir Ahmad Al Utsmani, Maulana Dhafar Al Utsmani serta Ubaidullah As Sindi, termasuk mereka yang memberi dukungan.

Aktif Luar Dalam
Darul Ulum juga berperan memperkuat posisi umat Islam sebagai kelompok minoritas di negara itu. Posisi mereka semakin diperhitungkan dengan didirikannya Jam’iyah Ulama Al Hind, yang dirintis oleh Mufti Al Akbar Muhammad Kifayatullah, yang juga berasal dari Deoband.

Darul Ulum juga dipercaya oleh umat Islam India untuk mengawal hukum waris dan pernikahan bagi umat Islam India, setelah adanya percobaan untuk mengubahkan tahun 1392 H atau 1972 M. Kepercayaan itu berlanjut hingga saat ini.

Di parlemen, ulama Darul Ulum, Mufti Atiq Ar Rahman Al Ustmani mendirikan faksi Islam, guna menyatukan suara partai-partai Islam. Upaya itu dilakukan agar umat Islam India tetap memperoleh hak mereka.

Pada Juni 2009, Darul Ulum juga menyuarakan penolakan rencana penghapusan undang-undang pasal 377, yang menyatakan bahwa aktifitas homoseksual merupakan tindakan pidana. Ide legalisasi perbuatan bejat itu sendiri datang dari menteri hukum India saat itu.

Tidak hanya bergerak di dalam negeri, para alumnusnya yang tersebar di berbaga negara juga diperhitungkan kiprah mereka. Muhammad Syafi’ Al Utsmani, mufti besar Pakistan yang memiliki peran aktif “memerangi” Ahmadiyah adalah salah satu alumnusnya. Qari Muhammad Qasmi pemimpin gerakan Khatam Nubuwat Hongkong, Maulana Ilyas Al Kandahlawi perintis Jama’ah Tabligh, juga lahir dari “rahim” Darul Ulum.

Ada lagi alumnus lainnya yang aktif di dunia Arab, yakni Abu Hasan Ali An Nadwi. Beliau salah satu pendiri Rabithah Alam Islami, pernah ditunjuk sebagai penasehat Universitas Islam Madinah dan pendiri Universitas Nadwatul Ulama di Lucknow.

Sedangkan di Asia Tenggara, alumnus Darul Ulum yang kiprahnya tidak bisa dipandang sebelah mata adalah Nik Aziz Nik Mat, tokoh spiritual sekaligus pendiri partai PAS Malaysia. Saat ini, ulama yang akrab dipanggil dengan sebutan Tok Guru ini, masih menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.

Madrasah yang banyak merujuk madzhab Hanafi dalam fiqh-nya ini, kini menjadi model bagi madrasah-madrasah setelahnya, yang didirikan oleh para alumnusnya. Madrasah-madrasah sejenis adalah Nadwah Ulama di Lucknow India, Darul Hadits Al Ashrafiyah Lahore Pakistan, atau Madrasah Al In’amiyah di Camperdown Afrika Selatan. Bahkan sebagian sekolah di Afghanistan dan Bangladesh juga berkiblat kepadanya. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2010

Sutera Kuning yang Ditakuti Inggris

Syaikh Mahmud membangun aliansi dengan Turki Utsmani dan Afghanistan serta suku-suku pedalaman guna melawan Inggris
Saat itu, perang Dunia Pertama belum berkobar, namun Inggris sudah mulai melancarkan perang dingin terhadap Kehilafahan Utsmani. Perkembangan selanjutnya terus diikuti oleh Syaikh Mahmud Hasan, hingga akhirnya perang mengerikan pecah pada tahun 1333 H.

Saat itulah ulama yang dikenal dengan sebutan Syaikh Al Hindi ini mulai tampak gelisah. Gelisah, karena Kongres Nasional India tidak bisa melakukan apa-apa untuk menuntut kemerdekaan dari Inggris. Keadaan seperti ini memaksa Syaikh Hasan Mahmud membuat rencana menggulingkan pemerintahan Inggris yang mencengkeram negerinya saat itu.

Di saat Eropa mengeroyok Turki, pemimpin Darul Ulum generasi ke tiga ini menyiapkan rencana dengan skala besar yang terorganisir untuk menghabisi kekuatan Inggris di India. Sebagian besar murid beliau, baik yang tersebar di India maupun di luar negeri ikut andil dalam rencana ini.

Untuk masalah dalam negeri, Syaikh Mahmud mempercayakan kepada Maulana Muhammad Manshur Mian Anshari guna menanamkan ajaran jihad kepada suku-suku di wilayah tribal area. Sedangkan masalah luar negeri beliau sendiri yang melakukan perjalanan ke Hijaz untuk meminta dukungan dari Turki, yang saat itu masih menguasai wilayah tersebut. Muridnya yang lain, Ubaidullah As Sindi bertugas ke Kabul dengan missi khusus, yakni meminta bantuan persenjataan. Diharapkan kelak terjadi perlawanan sporadis di India, hingga Inggris tidak mampu mengatasinya.

Pada tahun 1333 Syaikh Mahmud sudah sampai di Hijaz. Beliau kemudian mengadakan pembicaraan dengan Ghalib Pasha, Gubernur Turki untuk wilayah itu dan Anwar Pasha Menteri Peperangan Turki. Rencananya, beliau akan kembali melalui via Baghdad dan Balukistan hingga bisa langsung bergabung dengan suku-suku tribal area. Melalui surat dengan media sutera kuning, komunikasi Syaikh Mahmud dengan para muridnya cukup lancar. Surat sutera kuning inilah yang disebut-sebut pihak Barat dengan “silk letter conspiracy”.

Namun, Allah Ta’ala menghendaki lain, pihak Inggris mengetahui rencana itu sebelum terlaksana. Saat Syaikh Mahmud Hasan hendak kembali, beliau ditangkap Sharif Husain, penguasa Makkah yang menentang Utsmani, dan menyerahkannya kepada Inggris. Peristiwa ini terjadi pada 23 Shafar 1335 H. Setelah itu, hampir sebulan Syaikh Hasan Mahmud mendekam di penjara di Jeddah. Setelah itu beliau dibawa dengan kapal menuju Suez dan diasingkan di Malta.

Syaikh Mahmud Hasan dan beberapa kawan beliau yang diasingkan menyebutkan beberapa hal yang ditanyakan di saat proses interogasi. Di antaranya adalah tujuan pertemuan beliau dengan Ghalib Pasha. Kemudian alasan mengapa beliau enggan menandatangani fatwa pengkafiran terhadap Turki, serta penjelasan rinci mengenai kegiatan murid beliau, Ubaidullah Shindi di Afghanistan.

Tiga seperempat tahun, putra Syaikh Dzul Fiqar Ali ini menghabiskan waktu di pengasingan. Pada 20 Ramadhan tahun 1338 H, beliau menginjakkan kaki di pantai Mumbai, kemudian singgah ke Darul Ulum, sebelum kembali ke rumah. Tak lama kemudian, beliau segera bergabung dengan gerakan Khilafat, dan memfatwakan wajibnya melakukan perlawanan terhadap Inggris. Fatwa itu disambut gegap gempita oleh umat Islam.

Gerakan Khilafat yang diperkuat dengan Jamiatul Ulama-e Hind semakin berpengaruh dalam bidang politik, di saat Kongres Nasional India tak memiliki peran yang berarti dalam memerdekakan India. Akhirnya, Ghandi menggabungkan Kongres Nasional dengan gerakan Khilafat, hingga gerakan nasional begitu kuat, dan kemerdekaan India bisa diraih lebih cepat. Dalam jangka 27 tahun India sudah memperoleh kemerdekaan. Namun, perjuangan Muslim dalam memerdekaan India sering kali dipandang sebelah mata.
Sejak tiba dari Malta, kesehatan Syaikh Mahmud Hasan sebenarnya sudah terganggu. Saat itu, walau sedang menderita sakit, beliau tetap melakukan aktivitas guna mendukung gerakan kemerdekaan. Saat mengunjungi Universitas Aligarh, guna meresmikan Universitas Milia Islamia, sakit beliau semakin parah, kemudian beliau dibawa ke Delhi untuk dirawat. Tepatnya, pada 18 Rabiul Awal 1339 H beliau akhirnya menghambuskan nafas terakhir. Jasad ulama pejuang ini dimakamkan di komplek Deoband.
Ulama alumnus pertama Darul Ulum ini meninggalkan beberapa karya. Yang paling tersohor adalah terjemah Al Qur`an berbahasa Urdu, yang selanjutnya ditafsiri oleh Syaikh Syabir Ahmad Al Utsmani, salah satu muridnya, yang kini populer dengan sebutan Tafsir Al Utsmani. Semoga Allah meridhai ulama-mujahid ini. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2010

Jago Mensyarah Shahih Al Bukhari

Salah satu santri Darul Ulum yang cemerlang. Berfatwa sejak berumur 12 tahun, lebih memilih mengajar dengan gaji 50 rupee dan menolak gaji 1000 rupee
Saat itu, Syaikh Mu’adzam Syah, secara rutin mengajarkan kepada putra laki-lakinya kitab Mukhtashar Al Quduri, rujukan fikih dalam madzhab Hanafi. Nyatanya, sang putra memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya di tengah-tengah proses belajar. Karena sulitnya menjawab pertanyaan si anak, pernah ulama Kashmir ini terpaksa harus menelaah kitab Al Hidayah, rujukan dalam madzhab Hanafi yang lebih tinggi, untuk menjawabnya.

Belajar Bersungguh-sungguh

Mengetahui kelebihan si anak, ulama Kasymir yang dikenal sebagai ahli ibadah dan zuhud ini menyerahkan pendidikan anaknya kepada ulama lainnya. Tak lama kemudian, sang ayah mendengar keluhan dari sang guru, mengenai pertanyaan-pertanyaan sulit yang sering dilontarkan oleh putranya.

Pernah, Syaikh Mu’adzam Syah membawa putranya itu kepada seorang ulama ahli ibadah. Saat melihat putra beliau, ulama tersebut mengatakan, ”Anak ini akan menjadi orang yang paling alim di masanya.”

Bahkan Syaikh Mu’adzam memperoleh informasi dari beberapa ulama dimasanya, bahwa sang putra bakal menjadi Ghazali atau Ar Razi di masanya. Penilaian itu berdasarkan catatan-catatan berbobot dalam buku-buku pelajarannya, selama menuntut ilmu. Siapa si anak sebenarnya? Dia tidak lain adalah ulama yang memiliki nama Al Imam Al Muhaddits Anwar Syah Al Kasymiri.

Al Kashmiri, sebelum berumur 5 tahun sudah menguasai sastra Persia dan menelaah karya-karya Syaikh As Sa’di As Syairazi, An Nidzami, Al Jami serta Jalaluddin Ad Dawani serta sudah mengkhatamkan al-Qur`an.

Lantas beliau mempelajari disiplin ilmu yang lebih luas seperti, tafsir, ushul fikih, fikih, mantiq, dan lainnya. Tingginya kemampuan memahami apa yang diajarkan tidak membuat Al Kasymiri kecil terlena. Beliau tetap sungguh-sungguh dalam belajar, hingga tidak pernah tidur dalam keadaan berbaring, kecuali pada Jumat. Seluruh waktunya digunakan untuk belajar, sehingga di saat rasa kantuk tidak sanggup ditahan, ia tertidur sambil duduk.

Dengan izin Allah, Al Kasymiri akhirnya menjadi seorang faqih dan mufti di Kasymir. Beliau pertama kali berfatwa saat berumur 12 tahun dan fatwa-fatwa beliau dijadikan rujukan para ulama. Namun, beliau masih haus akan ilmu. Setelah banyak menghabiskan masa belajarnya Kasymir, khususnya di madrasah Hizarah, perjalanan mencari ilmu diteruskan menuju pusat ilmu pengetahuan Islam di India yakni, Darul Ulum.

Melawan Gerakan Qadiyaniyah
Di madrasah itu, beliau bertemu dengan para ulama seperti Syaikh Mahmud Hasan Ad Deobandi, seorang musannid (ulama Hadits yang bersanad), yang menjadi guru bagi para ulama Arab maupun ‘ajam (non-Arab). Beliau juga berguru kepada Al Muhaddits Muhammad Ishaq Al Kasymiri. Dan kepada dua ulama ini beliau membaca Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, serta Sunan Ibnu Majah.

Ulama yang lahir 1292 H ini akhirnya menyelesaikan belajarnya di Darul Ulum tahun 1313 H. Kemudian beliau mengajar di Abdu Arrab, New Delhi, dan mendirikan Madrasah Al Aminiyah di sana.

Setelah menilai bahwa madrasah yang dirintis sudah mulai sempurna, Al Kasymiri kembali ke kampung halaman, dan merintis sebuah madrasah yang diberi nama Al Faidh Al ‘Am. Namun beliau tinggal di sana hanya tiga tahun. Setelah itu, beliau melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah. Menimba ilmu masih terus dilakukan, hingga beliau bertemu dengan Syaikh Husain Al Jisr At Tharabulsi dan berguru kepadanya. Di dua kota suci itu pula Al Kasymiri bertemu dengan para ulama lainnya dan memperoleh ilmu dari mereka.

Saat itu, Al Kasymiri berniat untuk menetap di Tanah Haram, namun sebelum melaksanakannya, beliau ingin mendapatkan restu dulu dari guru beliau di Darul Ulum, yakni Syaikh Mahmud Hasan. Namun, sang guru menyarankan agar Al Kasymiri mengurungkan niatnya, dan malah memintanya untuk tetap tinggal di Darul Ulum.

Saat itu, Syaikh Mahmud Al Hasan berniat berangkat menuju Tanah Suci guna berhaji dan bertemu dengan gubernur Hijaz. Beliau lalu menyerahkan kepemimpinan Darul Ulum kepada beliau. Belakangan diketahui bahwa Syaikh Mahmud Hasan tidak bisa kembali karena ditahan Inggris dan diasingkan di Malta.

Sejak saat itu, Darul Ulum akhirnya dipimpin oleh Syaikh Anwar Syah Al Kasymiri. Di sekolah itu, beliau mengajarkan Hadits dalam kutub as sittah, serta kitab-kitab induk lainnya. Sebagai pemimpin Darul Ulum, beliau mendapat gaji 50 rupe. Gaji itu jauh lebih kecil dibanding tawaran-tawaran yang pernah datang kepada beliau.

Pernah sebuah sekolah tinggi di Kalkuta meminta beliau mengajar dengan gaji sebesar 900 rupee. Akan tetapi, beliau membalas tawaran itu dengan mengatakan, ”Cukup bagi saya apa yang ada, saya tidak membutuhkan hal di luar itu.” Bahkan, setelah tidak lagi mengajar di Darul Ulum, beliau diminta mengajar di Pakistan dengan gaji 1.000 rupee perbulan, namun beliau juga menolak.

Di masa menjalani kepemimpinan di Darul Ulum, beliau membangkitkan umat untuk melawan gerakan Qadiyaniyah, baik itu melalui ceramah, pengajaran, hingga penulisan buku-buku. Tidak kurang dari 5 buku beliau yang membahas kesesatan sekte ini. Di antaranya adalah Ikfar Al Mulhiddin fi Dhoruriyat Ad Din serta Sad’u An Niqab ‘an Jisasah Al Funjab. Saat itu, serentak para ulama, jurnalis dan cendekiwan ikut bangkit menghadapi faham sesat yang bersumber dari Mirza Ghulam Ahmad ini.

Jumlah keseluruhan kitab yang ditulis Al Kasymiri tidak kurang dari 34 buah. Dari jumlah itu, terdapat beberapa karya beliau yang berkenaan dengan syarah (penjelasan) Hadits. Faidh Al Bari adalah penjelasan bagi Shahih Al Bukhari, sedangkan Al Urf Asy Syadzi ‘ala Jami’ At Tirmidzi pejelasan untuk Jami’ At Tirmidzi.

Disamping itu, ada pula Amali ‘ala Sunan Abu Dawud, Amali ‘ala Shahih Muslim, serta Hasyiyah ‘ala Sunan Ibni Majah. Tentu, sangat jarang ada ulama yang memiliki banyak karya mengenai penjelasan kitab Hadits, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di masa terakhir seperti beliau.

Setelah memimpin Darul Ulum, pada tahun 1346 H, Al Kasymiri menetap di Dabil, yang berjarak 150 mil dari Bombai dan mendirikan sebuah madrasah yang bernama Jami’ah Al Islamiyah serta penerbitan Al Majlis Al Ilmi

Lima tahun Al Kasymiri tinggal di Dabhel dengan aktivitas dakwah. Namun tak lama kemudian bilau diuji dengan penyakit bawasir yang kronis. Kemudian ulama ini kembali ke Darul Ulum. Penyakit yang beliau derita semakin parah, hingga akhirnya meninggal tepat pada waktu sepertiga malam, Senin, 13 Shafar tahun 1302 H. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Download Free WordPress Themes | Thanks to Themes Gallery, Premium Free WordPress Themes and Free Premium WordPress Themes